Kota Dumai Gelar Sosialisasi dan Lokakarya Program Kotaku

Dumai, 26 Juli 2018 Porgram Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Kota Dumai Gelar Sosialisasi dan
Lokakarya, dengan tujuan melakukan keterpaduan program melalui kolaborasi dan keberlanjutan program.

Acara tersebut dibuka secara langsung oleh Walikota Dumai Bapak H. Zulkifli, AS, acara tersebut juga turut hadir Kepala BAPPEDA Kota Dumai, DPRD, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Dumai, serta OPD, Camat, Lurah, LKM, Fasilitator dan Tim KMW OC-3 Riau.

Dalam sambutannya Walikota menyampaikan semua kita pasti ingin berubah, ingin indah, pembangunan, lingkungan tapi itu semua tidak datang tiba-tiba itu semua dapat terwujud dengan kebersamaan dan semangat. Sekecil apapun perbuatan baik itu, akan menghasilkan amalan yang baik. 

Yang terpenting juga semua kegiatan harus betul-betul dalam pengawasan bersama, laksanakan sesuai aturan yang ada, sehingga tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari. Dan tidak kalah pentingnya pembangunan juga harus memperhatikan kota layak anak, aman bagi anak-anak. AdmKotaku.

Pembukaan Oleh Walikota
Peserta Sosialisasi dan Lokakarya
Diskusi Bersama Kepala BAPPEDA & DPRD
Foto Bersama Anggota LKM

Foto Bersama OPD dan DPRD

Foto Bersama Tim Korkot

Korkot dan Fasilitator Program Kotaku Riau Jalani Pelatihan Sepekan


Sebanyak 74 peserta Korkot dan Fasilitator Program Kotaku di Riau ikuti pelatihan. Acara dibuka Kepala Satker Pengembangan kawasan Pemukiman Berbasis Masyarakat Mita Dwi Aprini.

Riauterkini - PEKANBARU - Puluhan Koordinator Kota (Korkot) dan fasilitator tahun 2018 Nasional Slum Upgrading Program (NSUP) Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) KMW OC-3 Provinsi Riau menjalani pelatihan di Hotel Alpa, Jumat (13/7/2018).

Kegiatan yang berlangsung hingga 19 Juli mendatang ini diikuti oleh 74 peserta dari 5 Kabupaten/ Kota di Provinsi Riau. Pelatihan ini dibuka langsung oleh Kepala Satuan Kerja (Satker) Pengembangan kawasan Pemukiman Berbasis Masyarakat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Mita Dwi Aprini. "Keberhasilan kita ketika mendampingi masyarakat saat masyarakat berkata terimakasih telah membantu kami untuk menjadi yang lebih baik. Jadi fasilitator diharapkan semakin terampil dalam pendampingan di kelurahan atau desa," kata Mita.

Fasilitator wajib memberikan pendampingan agar masyarakat dalam menjalanjan program Kotaku. Misalnya, dalam memperbaiki drainase. Drainase yang diperbaiki harus betul-betul ada manfaat setelah selesai dikerjakan. 


"Tugas kita memberikan pendampingan supaya kualitas teknis bagus, supaya umur infrastrukturnya lama. Itu wajib kita dampingi agar umurnya lama. Jangan sampai masyarakat mengeluarkan uang untuk perbaiki infrastruktur yang baru dikerjakan," tegasnya. 

Ia juga meminta kepada fasilitator agar selalu bekerja dengan semangat. Ia pun meminta para fasilitator selalu berkoordinasi dengan pemerintah setempat. 

"Jadikan pekerjaan ini kebahagiaan para pendamping. Libatkan camat dan lurah dalam perencanaan kegaiatan ini," harapnya. 

Ia menambahkan, tujuan program ini memang untuk meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di kawasan kumuh perkotaan untuk mendukung terwujudnya permukiman perkotaan yang layak huni. 

"Mendukung menurunnya luas kawasan permukiman kumuh menjadi 0 Ha juga tersusunnya rencana pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh tingkat kota/kabupaten dan tingkat masyarakat yang terlembagakan melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)," paparnya. (dan).

Fasilitator Program Kotaku Harus Tambah Terampil


PEKANBARU - Puluhan Koordinator Kota (Korkot) dan fasilitator tahun 2018 Nasional Slum Upgrading Program (NSUP) Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) KMW OC-3 Provinsi Riau menjalani pelatihan di Hotel Alpa, Jumat (13/7/2018).

Kegiatan yang berlangsung hingga 19 Juli mendatang ini diikuti oleh 74 peserta dari 5 Kabupaten/Kota di Provinsi Riau. Pelatihan ini dibuka langsung oleh Kepala Satuan Kerja (Satker) Pengembangan kawasan Pemukiman Berbasis Masyarakat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Mita Dwi Aprini.

"Keberhasilan kita ketika mendampingi masyarakat saat masyarakat berkata terimakasih telah membantu kami untuk menjadi yang lebih baik. Jadi fasilitator diharapkan semakin terampil dalam pendampingan di kelurahan atau desa," kata Mita. 
Fasilitator wajib memberikan pendampingan agar masyarakat daalm menjalanjan program Kotaku. Misalnya, dalam memperbaiki drainase. Drainase yang diperbaiki harus betul-betul ada manfaat setelah selesai dikerjakan.

"Tugas kita memberikan pendampingan supaya kualitas teknis bagus, supaya umur infrastrukturnya lama. Itu wajib kita dampingi agar umurnya lama. Jangan sampai masyarakat mengeluarkan uang untuk perbaiki infrastruktur yang baru dikerjakan," tegasnya.

Ia juga meminta kepada fasilitator agar selalu bekerja dengan semangat. Ia pun meminta para fasilitator selalu berkoordinasi dengan pemerintah setempat. 
"Jadikan pekerjaan ini kebahagiaan para pendamping. Libatkan camat dan lurah dalam perencanaan kegaiatan ini," harapnya.

Ia menambahkan, tujuan program ini memang untuj meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di kawasan kumuh perkotaan untuk mendukung terwujudnya permukiman perkotaan yang layak huni.


"Mendukung menurunnya luas kawasan permukiman kumuh menjadi 0 Ha juga tersusunnya rencana pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh tingkat kota/kabupaten dan tingkat masyarakat yang terlembagakan melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)," paparnya. 


Sumber : http://www.halloriau.com